Showing posts with label inspirasi. Show all posts
Showing posts with label inspirasi. Show all posts

Wednesday, 7 December 2011

Lebih Besar Dari Uang


Uang adalah faktor penting yang memungkinkan bisnis bergerak maju. Bahkan, banyak teman-teman yang merasa, uang adalah satu-satunya faktor penghambat, untuk membangun sebuah bisnis.

Sayangnya, uang bukan satu-satunya yang bisa membuat Anda sukses berbisnis. Ada 7 hal yang menurut saya lebih besar dan lebih hebat lagi dari uang.

1. Waktu
Jika Anda kehilangan uang, pasti Anda punya cara untuk menggantikannya. Waktu, begitu hilang, langsung hilang selamanya. Dengan waktu Anda bisa menciptakan nilai (manfaat), nilai yang diakumulasi untuk jangka waktu yang lama, tidak ternilai harganya. Waktu yang diinvestasikan dengan baik, bisa membawa keajaiban.
2. Berani "marah" akan kemiskinan
Ambil contoh Anthony Robbins, seorang penulis buku, motivator kelas dunia, dan juga seorang Peak Performance Coach. Ia mengalami kemarahan luar biasa akan "nasib" yang menimpanya: ia diusir dari rumah, putus sekolah, dan menjadi tukang bersih-bersih WC sambil menyelesaikan sekolah menengah atas. Lahir tahun 1960, pada tahun 1980-an ia hidup tanpa rumah. Akan tetapi pada tahun 1984 ia mampu membeli sebuah mansion, senilai 1,7 juta dolar AS.
Bagaimana bisa? Ia tidak menjadi kaya karena tekad, tapi karena "kemarahan" akan hidup yang tidak layak. "Kemarahan" seperti ini, mengubah nasib. Banyak orang yang menerima ketidaklayakan hidup tanpa berbuat sesuatu. Ayo, marahlah!
3. No excuse attitude
Tahun 1999, pertama kali saya mengenal coaching, saya mengalami peristiwa yang memalukan. Ketika berbicara di muka umum untuk pertama kalinya, saya hampir pingsan karena gugup. Satu sikap yang membantu saat itu, "no excuse", saya lakukan lagi, terus menerus sampai mahir. Perilaku ini tidak bisa dibayar dengan uang.
4. Berani karena benar
Sebuah impian, tanpa keberanian, adalah khayalan. Keberanian tanpa impian yang jelas, namanya "hidup membabi buta". Impian dan keberanian harus berjalan bersamaan. Keberanian yang bisa dibayar dengan uang, tidak autentik.
5. Iman dan keyakinan

Iman mengalahkan rasa takut. Iman melahirkan impian yang besar. Iman yang kecil melahirkan impian kecil. Iman yang besar bisa menggeser gunung. Miliki iman, keyakinan dan kekuatan tak terlihat menjadi milik Anda.
6. Berani berpikir terbalik

Manusia diberi alat hebat, namanya otak. Kemampuan otak Anda bisa membawa manusia pergi ke bulan. Menciptakan komputer, teknologi, alat bantu untuk mempermudah kehidupan. Berani berpikir adalah modal, tidak perlu uang, hanya sedikit disiplin dalam menggunakan pertanyaan yang kritis. Cobalah berpikir terbalik untuk memancing kreativitas.
7. Heart and spirit
Wage Rudolf Supratman menulis dalam lagu gubahannya, "...bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya..." Jiwa, heart and spirit, adalah api yang membuat impian bisa melahirkan perjuangan. Temui jiwa yang utuh, bangkitkan energi positif yang mampu membangun Indonesia.
Cara Anda mengelola waktu, kemarahan Anda akan kemiskinan, hidup tanpa alasan, berani, dan kualitas hati dan pikiran yang mantap akan menciptakan kepribadian patriot, pejuang dan pahlawan yang terhormat. 
Tanpa semua hal di atas, berapapun uang yang Anda miliki, akan habis. Pastikan Anda tahu, ada modal lain, selain uang. Kekayaan mental itu, lebih mahal dari uang. Kurangnya uang, terjadi karena hilangnya jiwa patriot dalam diri seseorang.
Salam pencerahan!

Sumber: m.andriewongso.com

Sunday, 28 November 2010

Etos Kerja Profesional

Bekerja, bekerja, dan bekerja! Pernahkah Anda berpikir apa yang sebenarnya menjadi tujuan utama kita dalam bekerja? Sekedar mendapat upah untuk mencukupi kebutuhan hidup? Atau ada hal-hal lain yang menjadi tujuan kita? Disadari atau tidak, tujuan atau motivasi kita bekerja akan menentukan seberapa baik kualitas pekerjaan kita. Jika hanya upah yang menjadi tujuan kita, sama artinya kita telah kehilanga "berkat-berkat" atau "manfaat" lain yang lebih besar yang sebenarnya dapat kita peroleh. Sejak mula Tuhan menciptakan kita dengan tujuan supaya kita menjadi "agen kerja" Tuhan di bumi. Mengusahakan, memelihara, dan menaklukan bumi adalah rencana Tuhan bagi hidup kita. Tuhan ingin kita menjadi seorang profesional dalam apa saja yang menjadi pekerjaan kita. Dan profesionalisme bukanlah orang yang menempatkan upah di atas segalanya. Seorang profesional akan melatih dirinya sedemikian rupa sehingga ia memiliki kebiasaan atau etos kerja profesional pula.

Apakah Anda adalah seorang yang profesional di bidang Anda? Untuk membuktikannya, periksa diri kita apakah etos kerja profesional seperti yang dikemukakan Jansen Sinamo berikut ini sudah ada:

1. Bekerja adalah rahmat Tuhan.
Banyak orang tidak bisa menghargai sesuatu sebelum ia kehilangannya. Kesempatan bekerja adalah rahmat Tuhan yang patut dinikmati dengan ucapan syukur. Etos kerja profesional tidak menganggap beban tugas atau pekerjaan menjadi sesuatu yang memberatkan, tapi hal itu justru tantangan yang akan ia selesaikan dengan penuh ucapan syukur.

2. Bekerja adalah bukti kepercayaan Tuhan
Bekerja adalah kepercayaan Tuhan untuk kita. Itulah yang harus selalu kita ingat. Bukan sebuah kebetulan jika kita menempati posisi kita saat ini. Namun, sudahkah kita menjawab kepercayaan itu dengan sempurna? Tanggung jawab kita dalam bekerja tidak hanya kepada manusia, tapi juga kepada Tuhan.

3. Bekerja adalah panggilan
Siapa bilang istilah "panggilan Tuhan" itu hanya pantas diberikan untuk orang-orang yang melayani pekerjaan Tuhan di gereja? Terlibat dalam pekerjaan sekuler pun adalah panggilan Tuhan. Sejak awal penciptaan, Tuhan mengeset manusia untuk menjadi agen kerja-Nya di bumi. Jika kita menyadari hal ini, pastilah kita akan menunjukkan sikap dan kualitas kerja yang terbaik. Karena bekerja adalah panggilan Tuhan, maka kesetiaan dan integritas menjadi bukti keprofesionalan kerja kita.

4. Bekerja adalah tempat kita mengaktualisasi diri.
Tidak jarang kadar semangat kita diukur dari besar kecilnya upah yang kita terima. Padahal, bekerja seharusnya menjadi sarana untuk kita mengaktualisasi diri. Di mana tempat yang paling tepat untuk kita bisa mengembangkan kemampuan dan talenta yang ada dalam kita? Tentu saja di tempat di mana kita bekerja.

5. Bekerja adalah ibadah.
Apakah sikap kita dalam bekerja sudah sama seriusnya seperti saat kita beribadah kepada Tuhan? Jika Anda menghargai pekerjaan pekerjaan sebagai sebuah ibadah, maka kita akan bekerja dengan segenap hati dan dengan visi. Ingatlah bahwa apa yang kita lakukan di tempat kerja pun bisa menjadi alat untuk menyenangkan hati Tuhan dan menjadi kesaksian bagi orang lain agar mereka memuliakan nama-Nya. Dan jangan lupa 1 Yohanes 4:20 berkata, jika kita tidak bisa mengasihi manusia yang kelihatan, maka kita tidak mungkin bisa mengasihi Allah.

6. Berkerja adalah seni.
Tidak cukup hanya bekerja dengan baik, tetapi profesionalisme juga terlihat jika kita bekerja dengan cerdas dan penuh kreativitas. Satu kali, seorang tukang servis sepeda sedang bekerja memperbaiki ban sepeda gunung milik seorang pengusaha di bengkelnya. Tidak butuh waktu lama baginya untuk segera menyelesaikan pekerjaannya, tetapi ada hal yang berbeda yang ditunjukkan tukang ini. Tidak hanya memperbaiki bannya, tetapi ia juga membersihkan seluruh bagian sepeda itu dengan lap hingga bersih. Si pemilik sepeda pun terpikat dengan cara kerja tukang sepeda itu, lalu menawarinya bekerja di perusahaannya. Sangan sederhana, bukan? Tapi, itulah profesionalisme! Jadi, coba pikirkan baik-baik, ide-ide atau hal kreatif apa yang telah kita tambahkan dalam pekerjaan kita?

7. Bekerja adalah kehormatan.
Bagi seorang wanita, rambut adalah ibarat sebuah mahkota dan kehormatan. Itu sebabnya para wanita tidak segan menganggarkan ratusan ribu rupiah demi menjaga kehormatannya. Nah seberapa besar kita menghargai pekerjaan kita? Jika kita menganggap pekerjaan adalah sebuah kehormatan, tentu kita tidak akan bekerja dengan setengah hati. Sebaliknya demi menghormati pekerjaan, kita akan bekerja dengan tekun dan memaksimalkan seluruh kemampuan diri kita.

8. Bekerja adalah pelayanan.
"Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!" Melakukan segala pekerjaan dengan kasih? Apa artinya? Itulah ketika seorang bekerja bukan hanya untuk kebaikan diri sendiri tetapi juga untuk kebaikan orang lain. Dalam kata lain, pekerjaannya adalah juga untuk melayani. Salah satu cara paling efektif untuk menciptakan loyalitas pelanggan adalah dengan memberika pelayanan terbaik untuk mereka. Bahkan sekalipun pelanggan bersikap kurang baik atau menolak hasil kerja kita, tetap tunjukkan sikap rendah hati dan melayaninya dengan baik. Baik atau buruk, sikap kita akan terus meninggalkan bekas dalam hati seriap orang.

Sumber: Spirit Motivator

Monday, 30 August 2010

Fungsi GOMBAL dalam Hubungan Cinta

Tiap kali liat FB, "What's on your mind?" di status. 
Refleks, Abang nulis nama Eneng.

Salah satu penyebab kegagalan dalam hubungan romansa adalah kehilangan kehangatan dalam berkomunikasi. Sebelum memulai percintaan, kedua pihak biasanya saling rajin menyirami satu sama lain dengan berbagai pernyataan afeksi. Setelah jadian, karena sudah merasa aman dan saling memiliki, perlahan-lahan kebiasaan itu memudar dan keintiman berhubungan pun menurun. Gombalisme adalah hal paling mudah yang bisa kamu lakukan untuk menghindari kondisi demikian.

Sekalipun pasangan kamu tahu persis kamu sedang menggombal atau berlebihan, kegiatan itu tetap mampu mencairkan hubungan yang dingin. Apalagi jika kamu memang sudah meluangkan waktu untuk mencari kalimat gombal yang keterlaluan lucunya. Dalam suasana demikian, interaksi penuh canda dan tawa kembali muncul di antara kalian berdua. Ijinkan kamu bertukar canda, hubungan akan kembali berbunga.

Selain mencairkan, gombal juga berfungsi untuk mempermanis sebuah momen. Analoginya adalah memberi kado tidak terasa lengkap kalau tidak diselipkan kartu ucapan. Jadi lakukan hal yang sama setiap kali kamu dan kekasih mengalami momen seperti kelulusan, ultah, peringatan hari jadi, dsb. Jangan cuma meyiapkan event atau hadiah yang spesial, tapi juga tambahkan bisikan satu dua kalimat gombal yang sakti. Hal-hal kecil seperti ini sepertinya sederhana namun sangat berharga di telinga seorang wanita.

Fungsi ketiga gombalisme adalah sebagai prelude atau pembukaan sebelum kamu meminta sesuatu padanya. Ketika hubungan sudah berjalan sekian lama, biasanya masing-masing pihak jadi serba cepat dan tegas, malas untuk bersikap manis ketika menginginkan sesuatu. Jadi sesekali (jangan terlalu sering!) kamu dan kekasih perlu saling mengajukan kalimat gombal sebagai minyak pelumas agar komunikasi hubungan kamu tidak seperti kontrak kerja kantoran.

Dalam sebuah hubungan, menggombali satu sama lain bukanlah saling menipu. karena jika dilakukan dengan benar malah menjaga agar hubungan tetap awet dan hangat.

Kalo kamu Sundel Bolong, aku rela jadi Udel Bodong. Biar kita sama-sama dihina.


(Sumber: Aku Padamu, @anjinggombal, oleh Lex dePraxis, www.hitmansystem.com)

Friday, 13 August 2010

Toxic Belief: "Konflik Adalah Tanda Kelemahan Hubungan"


Inilah keyakinan beracun yang sangat berbahaya, terutama jika diterapkan dalam pernikahan. Banyak sekali orang yang menganggap konflik sebagai sebuah bentuk kegagalan atau ketidakharmonisan sehingga akhirnya mereka mencoba sekuat tenaga untuk menghindari konflik atau berusaha memadamkannya dengan kompromi-kompromi yang tidak cerdas.

Tidak terhitung pula jumlah pasangan yang memilih bercerai lantaran mereka terjebak dalam situasi konflik beruntun. Dengan segera mereka melihat ini sebagai tanda “ketidakcocokan” dan tanda “perhentian” yang membuat mereka memutuskan untuk mengakhiri pernikahan. Padahal, dalam sebuah hubungan APAPUN, untuk mencapai level keharmonisan dan kualitas kedekatan yang sejati, kita HARUS selalu melewati fase-fase konflik.

Konflik adalah NETRAL. Konflik hanyalah simtom (gejala) bahwa ada 2 kubu yang berbeda yang harus dicarikan titik tengahnya. Istri saya selalu berkata bahwa konflik adalah KONSEKUENSI OTOMATIS dan WAJAR dari pertemuan dua hal yang berbeda. Artinya, jika ada 2 manusia yang berhubungan, menurut Anda wajar atau tidak jika mereka kemudian konflik? Tentu sangat wajar, manusiawi, dan normal sekali karena setiap manusia di muka bumi ini memiliki perbedaan.

Banyak pasangan gagal dalam membangun pernikahan karena mereka memandang konflik sebagai masalah. Setiap mereka bertengkar mereka merasa ada masalah dalam hubungan mereka. Sebaliknya, ada pasangan-pasangan yang cukup bijaksana dan memandang konflik sebagai salah satu alat untuk mereka lebih saling memahami dan mengelola perbedaan mere-
ka. Anda tidak pernah bisa menyelesaikan konflik dengan cara menghindarinya. Menghindar dari konflik justru ibarat “menabung” untuk nantinya dituai dalam bentuk konflik yang lebih besar. Disinilah letak jebakan bagi kita, kita berpikir asalkan kita tidak melihat konflik, maka berarti tidak ada masalah. Sehingga dengan sekuat tenaga kita memendam perasaan dan pemikiran kita. Inilah salah satu tindakan menghindari konflik.

Tentu saja saya juga tidak menyuruh Anda kemudian setiap hari konflik terus-menerus. Karena kalau perbedaan bisa diselesaikan tanpa konflik, kenapa kita harus repot-repot ribut-ribut bukan? Saya hanya ingin Anda mulai memandang konflik secara berbeda. Konflik bukanlah masalah. Setiap hubungan HARUS melewati fase konflik untuk menuju pada hubungan yang dewasa. Jangan sampai ketika fase itu datang Anda memilih mundur karena melihat bahwa hubungan tersebut bermasalah.

Yang terpenting sebenarnya bukanlah konfliknya, melainkan bagaimana respon kita terhadap konflik itu sendiri. Ingat, konflik adalah konsekuensi logis karena ada 2 hal yang berbeda. Maka, solusinya adalah mencari titik temu agar 2 hal yang berbeda itu bisa berjalan bersama. TIDAK HARUS salah satu dibuang dan mengikuti yang lainnya. Anda harus paham bahwa konflik BUKAN PERTANDINGAN. Konflik tidak mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Karena jika orientasi Anda adalah menang-kalah atau benar-salah, maka di ujungnya akan ada pihak yang terluka dan kecewa.

Yang harus Anda lakukan adalah mencari WIN-WIN solution agar keduanya bisa berjalan tanpa keberatan. Disinilah yang tidak mudah karena kadangkala yang sebenarnya harus dikalahkan bukanlah orang lain, melainkan ego diri kita sendiri. Disinilah butuh kedewasaan yang tidak dimiliki oleh sembarang orang. Disinilah perlu komunikasi yang dewasa dan saling menghormati. Itu sebabnya pula, hanya orang dewasa yang mampu berhadapan dengan konflik. Andakah orangnya?

(Sumber: www.shifthinknow.com, "21 EMOTIONAL TOXIC BELIEF oleh Josua Iwan Wahyudi")

Thursday, 12 August 2010

Sukses Ala Buffett

Warren Buffett yang pernah didaulat sebagai orang terkaya nomor satu dunia versi majalah "Forbes" jauh dari kesan glamour layaknya konglomerat kelas dunia. Sebaliknya kita akan menemukan sosok yang sederhana dan bersahaja. Itulah salah satu kunci keberhasilannya di dalam bisnisnya. Inilah beberapa petikan wawancara Warren Buffet dengan CNBC yang sangat mengejutkan dunia.

Pada usia 14 tahun, Buffet sudah bisa membeli satu kebun kecil dengan tabungannya hasil menjadi loper koran.
Pelajaran 1: Sejak dari kecil, Buffett sudah belajar bisnis dan mau bekerja keras.

Buffet masih menyetir mobilnya sendiri dan tidak punya bodyguard. Buffett tidak pernah pergi dengan pesawat jet pribadi meski ia memiliki perusahaan jet. Rumah Buffett di kota Omaha juga jauh dari kesan mewah.
Pelajaran 2: Jangan beli apa yang tidak kita butuhkan hanya demi gengsi saja. Bersahaja dan hidup sederhana tidak selalu buruk.

Buffett juga secara konsisten menyumbangkan sebagian penghasilannya untuk yayasan sosial.
Pelajaran 3: Hemat bukan berarti pelit.

Dari wawancara tersebut, kita menemukan tiga kunci keberhasilan Buffett. Mau bekerja keras, jangan ikut arus konsumerisme hanya demi gengsi, dan bersedialah memberi. Sikap yang benar-benar langka! Faktanya budaya masyarakat yang banyak kita temui sekarang justru bertolak belakang. Mau kaya tapi bermalas-malasan. Yang penting ikut tren masa kini demi menaikkan derajat, meski hanya melakukannya dengan cara kredit. Satu lagi, berani royal untuk diri sendiri tapi sangat pelit jika untuk orang lain.

Sikap Buffett terlihat kuno dan kolot, tapi sesungguhnya sikap seperti itu masih laku dan sangat diperlukan di jaman sekarang ini. 

Segala sesuatu yang dijumpai tangamu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga. (Pkh. 9:10)

Orang bijaksana menyimpan untuk masa depan, tetapi orang bodoh menghabiskan semua yang diperolehnya. (Ams 21:20) Belanjakanlah uang secara bijak.

Yang menyebar harta bertambah kaya, yang menghemat secara luar biasa selalu berkekurangan. (Ams 11:24)

Mau bekerja keras, bijak mengelola keuangan, dan selalu memberi adalah kunci untuk meraih sukses.

(Sumber: Spirit Motivator)

To know more about Warren Buffett, visit http://en.wikipedia.org/wiki/Warren_Buffett

Monday, 9 August 2010

Inspirational Quotes



Try not to become a man of success but a man of value.

Albert Einstein

If you have built castles in the air, your work need not be lost; that is where they should be. 
Now put foundations under them.

Henry David Thoreau

Inspiration and genius--one and the same.

Victor Hugo

To find what you seek in the road of life, 
the best proverb of all is that which says:
"Leave no stone unturned."

Edward Bulwer Lytton

If you would create something,
you must be something.

Johann Wolfgang von Goethe

Every artist was first an amateur.

Ralph Waldo Emerson

The more difficulties one has to encounter, within and without, the more significant and the higher in inspiration his life will be.

Horace Bushnell

Life has no smooth road for any of us; and in the bracing atmosphere of a high aim the very roughness stimulates the climber to steadier steps, till the legend, over steep ways to the stars, fulfills itself. 

W. C. Doane



Do we not all agree to call rapid thought and noble impulse by the name of inspiration?

George Eliot

No great man ever complains of want of opportunities.

Ralph Waldo Emerson

Men do less than they ought,
unless they do all they can.

Thomas Carlyle

Men's best successes come after their disappointments. 

Henry Ward Beecher.

Let thy words be few.

Ecclesiastes 5:2 from Words of Wisdom

Happy are those who dream dreams and are ready to pay the price to make them come true.

Leon J. Suenes

The power of imagination makes us infinite.

John Muir

First say to yourself what you would be;
and then do what you have to do.

Epictetus

Saturday, 17 July 2010

Giving Secret!

Mana yang lebih enak: memberi atau menerima? Banyak orang berpikir bahwa menerima berarti penambahan sedangkan memberi berarti pengurangan. Namun bagi orang yang sudah tahu rahasia di balik hidup berbagi dan memberi, maka memberi jauh lebih membahagiakan dibandingkan dengan menerima. 

"Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima" ~Kis.20:35

Mengapa demikian? Karena sesungguhnya ada "keajaiban" di balik memberi, suatu rahasia yang hanya diketahui oleh orang-orang berjiwa besar. Apa saja berkat yang akan kita dapatkan ketika kita belajar memberi?

Satu, memberi itu menyehatkan.
Dr. Allan Luks melakukan riset yang mendalam tentang hubungan memberi dengan kesehatan. Survey yang dilakukan melibatkan 3.000 sukarelawan dan 90% dari sukarelawan tersebut berkata, "memberi atau menolong orang lain dapat mengurangi rasa sakit, mengurangi stres, meningkatkan endorfin, dan meningkatkan kesehatan." Prof. David McClelland juga menambahkan, "Melakukan sesuatu yang positif terhadap orang lain akan memperkuat sistem kekebalan tubuh." Ini tidak hanya teori saja, tapi benar-benar terjadi secara nyata. Anda tentu pernah melihat bagaimana mendiang Bunda Theresa merawat dan menyentuh orang-orang yang sakit menular di Calcuta, India, meski setiap hari bersentuhan dengan kuman seperti itu Bunda Theresa tetap sehat dan memiliki umur yang panjang. Bukankah ini sangat liar biasa?

Sebaliknya, orang kikir cenderung mudah terserang penyakit. Mengapa demikian? Orang kikir adalah orang yang cinta uang. Ketika menghadapi masalah dan uangnya sedikit berkurang, maka orang ini akan stres. Ketika stres maka tubuh akan mengeluarkan hormon kortisol yang akan mengurangu kekebalan tubuh. Kalau kekebalan tubuh berkurang, maka ia akan mudah terserang oleh sakit. Karena itu jika ingin sehat, banyak-banyaklah memberi. Makin banyak memberi, maka kita terhindar dari cinta akan uang. Tidak salah jika dikatakan. Memberi sama dengan menjaga kesehatan!

Dua, memberi itu memperpanjang umur.
Ingin panjang umur dan awet muda? Rahasianya sangat sederhana, banyak-banyaklah memberi! James House di risetnya menyimpulkan, "menolong orang lain secara sukarela meningkatkan kebugaran tubuh dan angka harapan hidup." Barangkali Anda pernah membaca kisah hidup John D. Rockefeller, seorang filantropi atau dermawan yang sangat terkenal. Sebelumnya, Rockefeller adalah seorang yang tidak bahagia, sering sulit tidur, dan dokter memvonis hidupnya tinggal setahun lagi. Rockefeller mencoba menemukan arti hidupnya, lalu dia memutuskan untuk memberikan sebagian besar uangnya untuk amal, kaum papa dan orang miskin. Luar biasa, justru hidupnya berbalik seratus delapan puluh derajat, kesehatannya membaik berlawanan dengan perkiraan dokter, ia bisa hidup sampai 98 tahun. Dengan memberi, Rockefeller mendapat "bonus" usia sampai 45 tahun. Tidak perlu heran karena ketika seseorang merasa hidupnya berarti dan merasa bahagia, maka secara otomatis itu akan berpengaruh pada kesehatan tubuhnya.

Tiga, memberi membuat kita berbahagia.
Elizabeth Dunn telah melakukan riset berkali-kali terhadap orang yang suka memberi. Dari hasil penelitian tersebut, Dunn menyimpulkan bahwa memberi sesuatu kepada orang ternyata mendatangkan kebahagiaan luar biasa. Bukankah kita sendiri mengalami hal tersebut di atas? Ketika kita mengulurkan tangan untuk menolong sesama dan berbagi hidup dengan mereka, maka kita merasakan kebahagiaan yang sangat mendalam. Kita merasakan bahwa hidup ini jauh lebih berarti ketika kita memberi dan menolong sesama.

Ketika kita menerima pemberian orang lain, pastilah kita merasa senang. Tapi jika ingin rasa senangnya dua kali lipat lebih banyak, kitalah yang harus memberi. Memberi itu ajaib. Sepertinya apa yang kita miliki berkurang, tapi sesungguhnya kebahagiaan kita akan bertambah. Dan tak lama setelah itu pasti ada pelipatgandaan dari apa yang telah kita tabur. Anda percaya?

Sumber: Spirit Motivator

Ukuran kekayaan bukanlah dari seberapa banyak yang kita kumpulkan, tapi seberapa banyak yang dapat kita berikan.

Friday, 25 June 2010

Cinta dan Penerimaan

Seorang anak muda yang melakukan wajib militer di Vietnam menelepon orang tuanya, "Ibu, tugas-tugas ketentaraanku di Vietnam sudah selesai dan aku akan segera pulang ke rumah. Tapi aku ingin membawa seorang teman ke rumah. Kedua kakinya telah diamputasi, satu lengan hilang, wajah tidak berbentuk. Temanku memang tidak enak dilihat, namun dia sangat memerlukan tempat tinggal." Ibunya terkejut dan berkata, "Apa yang nanti dikatakan orang-orang terhadap keluarga kita? Ini terlalu berat untuk kita...." Sebelum sang ibu selesai bicara, telepon sudah terputus.

Malam harinya, beberapa polisi mendatangi rumah ibu tersebut sambil berkata, "Nyonya, kami baru saja menemukan pria muda dengan kedua kaki dan satu lengan hilang. Wajahnya rusak berat. Ia menembak dirinya di kepala. Identifikasinya mengindikasikan bahwa ia adalah putra Anda." Ternyata "teman" yang diceritakan oleh si anak tak lain adalah dirinya sendiri. Dia memutuskan bunuh diri karena melihat bahwa orang tuanya tidak akan menyediakan tempat untuk dirinya.

Setiap orang butuh cinta dan penerimaan, terutama mereka yang sedang menghadapi tantangan hidup dan masa-masa sulit dalam hidupnya. Di sinilah peran kita sebagai orang Kristen akan diuji. Apakah hidup kita dikuasai kasih, ataukah sebaliknya hidup kita dipenuhi oleh egoisme? Mengapa hati terkadang menjadi dingin ketika melihat seseorang yang membutuhkan uluran tangan kita? Alasannya klasik, karena orang tersebut bukan anak kita, bukan juga keluarga. Untuk apa repot-repot menolong orang yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kita?

Dalam situasi seperti itu, kadang kala kita perlu melihat dari sudut pandang berbeda. Bagaimana jika yang kena musibah itu diri kita, anak kita, atau keluarga kita? Bukankah kita juga mengharapkan orang lain mau menolong dan menerima kita apa adanya? Ingatlah bahwa Tuhan selalu mengajarkan prinsip cinta kasih dan penerimaan satu akan yang lain. Bahkan Tuhan mengajarkan kita, bahwa apa yang kita lakukan untuk sesama kita, maka kita juga sudah melakukannya untuk Tuhan. 

Setiap orang butuh cinta dan penerimaan, apakah kita mampu menebarkan cinta dan kasih tanpa syarat?

Sumber: Spirit Motivator

Wednesday, 26 May 2010

Think Out of The Box

Pada tahun 1960-an, dua orang ilmuwan bernama Robert Ornstein dan Roger Sperry melakukan riset mengenai dungsi otak. Dari situ, ditemukan bahwa otak sebelaj kiri bertanggung jawab dalam hal berpikir logis, membaca, berbicara, dsb. Sebaliknya, otak kanan mengolah kecerdasan artistik, musikal, kecerdasan ruang, imajinasi, irama, dsb. Riset itu juga mengatakan bahwa kedua belahan otak itu sebenarnya dapat bekerjasama. Bagaimana caranya?

Belajar berpikir dengan cara berbeda. Contoh kecil saja, bila ada yang bertanya, "Bagaimana kabar Anda hari ini?" Ketika Anda menjawab 'luar biasa', maka Anda sudah melatih otak untuk berpikir berbeda. Bukti scan otak dengan memakai MRI juga menemukan memang ada perbedaan reaksi otak antara orang yang berpikir positif dan yang suka mengeluh. Untuk orang positif, dia akan mempergunakan otak kreatifnya, Sedang bagi yang suka mengeluh, dia akan mempergunakan otak ketiganya yang disebut otak reptilia, yang bekerja lebih dengan memakai insting.

Kreativitas datang ketika kedua belah otak bekerja. Dengan mengambil sudut pandang baru dan melihat secara berbeda, di situlah kita menggantikan pandangan lama dengan pandangan baru. Kita bisa menggabungkan ide lama sedemikian rupa dan menciptakan inovasi-inovasi baru. Itulah daya luar biasa otak yang Tuhan tempatkan dalam diri kita. George Bernard Shaw, seorang jenius dalam sastra inggris klasik berkata, "Kemajuan mustahil tanpa perubahan, dan mereka yang tidak bisa mengubah pikirannya tidak bisa mengubah apapun." Apakah saat ini kita merindukan terjadinya perubahan dalam hidup atau karier kita? Hal pertama yang harus kita lakukan adalah ubah cara pikir kita!
Alkitab mengatakan ini sebagai iman, yaitu bukti dari sesuatu yang tidak kita lihat. Meski saat ini keadaan belum mermbaik, mengubah pikiran kita adalah langkah iman untuk membuat perubahan. Miliki cara pandang Allah yang sanggup melihat apa yang saat ini belum terjadi. Minta Tuhan untuk memberi kita kemampuan mengubah keadaan kita. Allah telah memberi kita otak dan kemampuan yang luar biasa, jangan sia-siakan itu.

Langkah pertama untuk mengubah kehidupan Anda adalah dengan mengubah pikiran Anda.

(Sumber: Spirit Motivator)

Thursday, 22 April 2010

50 Tips Mencegah Global Warming

--Dalam Hal Makanan dan Minuman--

1. Kurangi konsumsi daging—bervegetarian adalah yang terbaik! 
Berdasarkan penelitian, untuk menghasilkan 1 kg daging, sumber daya yang dihabiskan setara dengan 15 kg gandum. Bayangkan bagaimana kita bisa menyelamatkan bumi dari kekurangan pangan jika kita bervegetarian.
Peternakan juga penyumbang 18% “jejak karbon” dunia, yang mana lebih besar dari sektor transportasi (mobil, motor, pesawat, dll). Belum ditambah lagi dengan bahaya gas-gas rumah kaca tambahan yang dihasilkan oleh aktifitas peternakan lainnya seperti metana yang notabene 23 kali lebih berbahaya dari CO2 dan gas NO yang 300 kali lebih berbahaya dari CO2. Dan yang pasti banyak manfaat kesehatan dan spiritual dari bervegetarian. Anda akan menjadi lebih sehat dan pengasih.

2. Makan dan masaklah dari bahan yang masih segar.
Menghindari makanan yang sudah diolah atau dikemas akan menurunkan energi yang terbuang akibat proses dan transportasi yang berulang-ulang. Makanan segar juga lebih sehat bagi tubuh kita

3. Beli produk lokal,
Hasil pertanian lokal sangat murah dan juga sangat menghemat energi, terutama jika kita menghitung energi dan biaya transportasinya. Makanan organik lebih ramah lingkungan, tetapi periksa juga asalnya. Jika diimpor dari daerah lain, kemungkinan emisi karbon yang dihasilkan akan lebih besar daripada manfaatnya.

4. Daur ulang aluminium, plastik, dan kertas. Akan lebih baik lagi jika Anda bisa menggunakannya berulang-ulang. Energi untuk membuat satu kaleng alumunium setara dengan energi untuk menyalakan TV selama 3 jam.

5. Beli dalam kemasan besar. Akan jauh lebih murah, juga menghemat sumber daya untuk kemasan. Jika terlalu banyak, ajaklah teman atau saudara Anda untuk berbagi saat membelinya.

6. Matikan oven Anda beberapa menit sebelum waktunya. Jika tetap dibiarkan tertutup, maka panas tersebut tidak akan hilang.

7. Hindari fast food!.
Fast food merupakan penghasil sampah terbesar di dunia. Selain itu konsumsi fast food juga buruk untuk kesehatan Anda.

8. Bawa tas yang bisa dipakai ulang.
Bawalah sendiri tas belanja Anda, dengan demikian Anda mengurangi jumlah tas plastik/kresek yang diperlukan. Belakangan ini beberapa pusat perbelanjaan besar di Indonesia sudah mulai mengedukasi pelanggannya untuk menggunakan sistem seperti ini. Jadi sambutlah itikad baik mereka untuk menyelamatkan lingkungan.

9. Gunakan gelas yang bisa dicuci.
Jika Anda terbiasa dengan cara modern yang selalu menyajikan minum bagi tamu dengan air atau kopi dalam kemasan. Beralihlah ke cara lama kita. Dengan menggunakan gelas kaca, keramik, atau plastik food grade yang bisa kita cuci dan dipakai ulang.

10. Berbelanjalah di lingkungan sekitar Anda.
Karena akan sangat menghemat biaya tansportasi dan BBM Anda. Dan secara tidak langsung mengurangi jumlah polusi udara.

11. Tanam pohon setiap ada kesempatan.
Baik di lingkungan ataupun dengan berpartisipasi dalam program penanaman pohon. Bisa dengan menyumbang bibit, dana, dll. Tergantung kesempatan dan kemampuan Anda masing-masing.

--Di Rumah--


12. Turunkan suhu AC Anda.
Hindari penggunaan suhu maksimal. Gunakan AC pada tingkatan sampai kita merasa cukup nyaman saja. Dan cegah kebocoran dari ruangan ber-AC Anda.
Jangan biarkan ada celah yang terbuka jika Anda sedang menggunakan AC Anda karena hal tersebut akan membuat AC bekerja lebih keras untuk mendinginkan ruangan Anda. Pada akhirnya hal ini akan menghemat tagihan listrik Anda.

13. Gunakan timer untuk menghindari lupa mematikan AC.
Gunakanlah timer sesuai dengan kebiasaan Anda. Misalnya jam kantor Anda adalah pukul 8.00 sampai 17.00. Set timer AC Anda sesuai dengan jam kantor tersebut. Dengan begitu tidak ada lagi insiden lupa mematikan AC hingga keesokan harinya.

14. Gunakan pemanas air tenaga surya.
Meskipun lebih mahal, dalam jangka panjang hal ini akan menghemat tagihan listrik Anda. (Bahkan saat ini sudah ada penerang jalan dengan tenaga surya).

15. Matikan lampu tidak terpakai dan jangan tinggalkan air menetes.
Selain menghemat energy dan air bersih, ini akan menghemat banyak tagihan Anda.

16. Gunakan lampu hemat energi.
Meskipun lebih mahal, rata – rata mereka lebih kuat 8 kali serta lebih hemat hingga 80 % dari lampu pijar biasa.

17. Maksimalkan pencahayaan dari alam.
Gunakan warna terang di tembok, gunakan genteng kaca diplafon, maksimalkan pencahayaan melalui jendela.

18. Hindari posisi stand by pada elektronik Anda!
Jika semua peralatan rumah tangga kita matikan (Bukan dalam posisi stanby) maka kita akan mengurangi emisi CO2 yang luar biasa dari penghematan energy listrik. Gunakan colokan lampu yang ada tombol on-off-nya. Atau cabut kabel dari sumber listriknya.

19. Jika pengisian ulang baterai Anda sudah penuh, Segera Cabut!.
Telepon genggam, pencukur elektrik, sikat gigi elektrik, kamera, dll. Jika sudah penuh segera dicabut.

20. Kurangi waktu dalam membuka lemari es Anda.
Untuk setiap menit Anda membuka pintu lemari es. Akan diperlukan 3 menit full energi untuk mengembalikan suhu kulkas ke suhu yang diinginkan.

21. Jangan membeli bunga potong.
Jika daerah Anda bukan penghasil bunga hias, maka bisa dipastikan bunga itu dikirim dari tempat lain. Hal ini akan menghasilkan “jejak karbon” yang besar.

22. Potong makanan dalam ukuran yang lebih kecil.
Ukuran potongan yang lebih kecil akan menggunakan energi lebih sedikit untuk memasaknya.

23. Gunakan air dingin untuk mencuci dan cucilah dalam jumlah banyak.Jika Anda memiliki keluarga kecil, tidaklah perlu setiap hari mencuci. Kumpulkanlah sampai kapasitas mesin cuci Anda terpenuhi, hal ini akan menghemat air, mengurangi pemakaian listrik dan juga mengurangi pencemaran akibat deterjen Anda.

24. Gunakan deterjen dan pembersih ramah lingkungan.
Saat ini mungkin harganya memang lebih mahal. Tetapi bila Anda mampu, lakukanlah demi masa depan anak cucu kita.

25. Gunakan ulang perabotan rumah Anda.
Jika Anda sudah bosan dengan perabotan Anda, Anda bisa melakukan obral di garasi rumah, berikan kepada orang lain. Atau bawa ke pengerajin untuk dimodifikasi sesuai keinginan Anda.

26. Donasikan mainan yang sudah tidak pantas untuk umur anak Anda.

27. Jika menggunakan deodorant atau produk-produk semprot lainnya, jangan menggunakan aerosol.
Pilihan spray dengan kemasan botol kaca akan lebih baik. Aerosol juga penyumbang besar dalam pencemaran udara kita.

--Dalam Pekerjaan--

28. Makan siang dikantor.
Jika kita sering makan di luar kantor dengan bungkusan dan rutin, lebih baik jika Anda membeli kotak makan atau tempat minum yang kuat dan bisa dipakai berulang kali. Hindari media bungkus plastik atau stereofoam (Berasal dari minyak bumi dan susah untuk diuraikan).

29. Gunakan kertas lebih sedikit.
Gunakan email internal Anda dan software perkantoran untuk membuat laporan internal. Cetaklah laporan/presentasi hanya jika diperlukan untuk melakukan kesepakatan dengan pihak luar.

30. Matikan peralatan kantor Anda.
Matikan dari sumbernya. Jangan dibuat stand by, matikan UPS dan trafo. Jika perlu cabut dari sumber listriknya.

31. Gunakan e-banking.
Alihkan tagihan kartu kredit Anda melalui penagihan lewat email, beberapa bank di Indonesia sudah dapat melakukannya. Bank-bank di Indonesia saat ini umumnya telah menyediakan fasilitas e-banking yang sangat lengkap. Kita bisa melakukan hampir semua transaksi pembayaran, transfer, pembelian voucher, dll melalui internet banking, bahkan mobile banking.
Memaksimalkan penggunaan ebanking akan menghemat banyak waktu dan biaya Anda. Anda telah menghemat dan meyelamatkan banyak pohon dan konsumsi CO2 untuk proses pembuatan kertas. Anda juga menghemat sangat banyak konsumsi BBM yang dibutuhkan untuk pergi ke bank atau ke ATM. Mulailah belajar untuk menggunakan e-banking bila Anda belum biasa untuk menggunakannya. Jangan mengkhawatirkan masalah keamanan karena teknologi pengamanan jaringan perbankan saat ini sudah sangat canggih. Tidak akan ada masalah dalam hal keamanan apabila Anda mengikuti dengan baik cara-cara dan panduan yang disarankan untuk melakukan transaksi online dengan aman.

32. Bagi industri, mulailah untuk menggunakan sumber energy yang dapat diperbaharui (tenaga angin, air, surya, dll).
Gunakan peralatan yang hemat listrik dan hemat energi, serta buatlah kebijakan/peraturan penghematan energi dan sumber daya di perusahaan Anda. Pilihlah teknologi yang ramah lingkungan, dan lakukanlah manajemen yang baik untuk menangani limbah industri Anda. Edukasi karyawan Anda untuk terbiasa bertanggung jawab dalam penggunaan energi dan sumber daya perusahaan.
Tingkatkanlah kesadaran mereka mengenai kecintaan terhadap lingkungan, tidak dengan hanya membuat peraturan dan hukuman. Berkontribusilah bagi perlindungan dan keselamatan lingkungan sebagai bagian dari Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan Anda. Lakukanlah program penanaman pohon, pembersihan lingkungan, dll. Pada akhirnya hal tersebut juga akan memberikan keuntungan bagi perusahaan Anda karena citra perusahaan Anda akan terangkat sebagai perusahaan yang beradab dan berbudaya.

--Dalam Perjalanan--

33. Berliburlah di dalam negeri dan gunakanlah transportasi darat!
Karena berlibur akan sangat meningkatkan jejak karbon Anda. Terutama jika dilakukan dengan menggunakan pesawat. Hal ini dapat mengurangi banyak sekali emisi karbon. Pesawat terbang merupakan penyumbang gas rumah kaca yang lebih signifikan daripada mobil atau kendaraan darat lainnya.

34. Kurangi perjalanan bisnis Anda.
Teknologi sekarang sangat memungkinkan untuk melakukan teleconference, juga menyediakan begitu banyak metode berkomunikasi via internet. Ditambah lagi dengan makin murahnya biaya internet, Anda akan menghemat banyak pengeluaran perjalanan Anda, dan tentunya mengurangi jejak karbon Anda secara signifikan. Pengecualian dapat dilakukan untuk transaksi yang membutuhkan tanda tangan Anda atau yang benarbenar membutuhkan kehadiran Anda.

35. Gunakan handuk hotel Anda lebih dari satu hari.
Anda akan menghemat salah satu sumber daya terpenting, yaitu air, dan juga mengurangi pencemaran akibat deterjen yang dipakai. Lebih jauh lagi, Anda menghemat energi dari mesin pencuci dan pengering yang digunakan.

--Mengemudi--

36. Gunakan mobil antar jemput untuk sekolah anak Anda. Hal ini akan sangat mengurangi beban BBM Anda, sopir, dan cicilan kendaraan. Jika belum ada, mungkin Anda bisa memulainya, dan menjadikan sebagai bisnis Anda.

37. Kecil itu indah dan hemat.
Jika Anda tidak bisa lepas dari penggunaan mobil, gunakanlah city car atau mobil dengan bahan bakar bio fuel, elektrik, hibrida, bahkan hidrogen, tergantung dari kemampuan Anda masing-masing. Tidak perlu membeli SUV besar 4 x 4 jika Anda tidak bekerja dipertambangan atau perkebunan. Gunakan kendaraan hibrida bila Anda mampu membelinya.

38. Ganti bahan bakar Anda!
Gunakan bahan bakar alami atau yang dapat diperbaharui (di Indonesia tersedia bio solar dan bio pertamax). Luar biasa jika bisa Anda bisa menggunakan bahan bakar hidrogen.

39. Cek tekanan angin ban dan jadwal service Anda.
Dari beberapa survei dipercaya menjaga kondisi mobil Anda pada kondisi optimal akan menghemat 5% penggunaan bahan bakar Anda.

40. Sewa mobil saat diperlukan.
Jika mobil bukan sarana utama Anda maka menyewa adalah pilihan yang baik. Termasuk jika Anda hanya memerlukan kendaraan besar (Family Car atau SUV) untuk beberapa kesempatan saja. Penghematan dari cicilan ataupun bahan bakar harian Anda akan sangat terasa.

41. Matikan mesin saat menunggu di sekolah anak Anda atau saat terjadi kemacetan total.
Ini sangat sering terjadi. Panas saat menunggu bisa dikurangi dengan menggunakan kaca film yang baik atau penghalang sinar matahari yang banyak dijual di took-toko aksesoris mobil. Atau parkirkan mobil Anda ditempat yang rindang.

42. Berbagilah! Carilah rekan kerja,
Atau teman yang area kerjanya sejalan dengan tujuan kerja Anda. Anda bisa berbagi biaya perjalanan dengan mereka.

43. Belajarlah cara mengemudi yang baik!
Ganti perseneling lebih awal bisa mengurangi konsumsi BBM hingga 15%. Jika mendekati kemacetan atau lampu lalu lintas berhentilah perlahan bukan dengan rem mendadak. Hindarkan mengemudi dengan kasar. Pindahkan gigi saat mencapai 2500-3000 rpm. Dan mengemudilah di batasan 1500-3000 rpm, beberapa survei mendapatkan hasil yang memuaskan dalam kehematan BBM dalam range tersebut.

--Elektronik--

44. Go rechargeable !
Gunakan peralatan dengan baterai yang bisa diisi ulang. Jika harus menggunakan yang satu kali buang gunakan lithium-ion (Li-Ion) and nickel metal hydride (NiMH) sangat hemat biaya dan juga efektif.

45. Utamakan hemat energi saat membeli peralatan elektronik.
Misalnya pilihlah TV LCD daripada TV CRT (TV tabung konvensional). Carilah AC atau kulkas dengan konsumsi listrik terendah, dll. Saat ini tidak terlalu sulit untuk menemukan produk elektronik hemat energi karena produsen beramai-ramai mulai memfokuskan strategi pemasarannya ke produk-produk seperti itu. Lihat saja dari seberapa sering Anda melihat iklan-iklan AC hemat energi di media cetak maupun elektronik.

46. Gunakan lebih lama, jangan mudah berganti alat elektronik yang memiliki fungsi sama!
Jika dilakukan, donasikan barang Anda yang lama.

--Alat kebersihan--


47. Cleaner, greener, meaner
Meskipun masih lebih mahal, produk kebersihan yang ramah lingkungan sudah mulai hadir di supermarket. Belilah bila Anda mampu. Sebenarnya cuka dan baking soda bisa digunakan untuk pembersihan hamper barang apapun. Campurlah cuka dengan air hangat (50:50), larutan cukaair tersebut dapat digunakan sebagai pembersih serba guna.. Baking soda bisa digunakan untuk membersihkan bau pada karpet.

48. Pastikan rumah Anda memiliki sirkulasi udara yang baik.
Ini sangat penting agar energi dan racun sekitar kita cepat bersih. Terutama saat membersihkannya.

49. Untuk kesegaran ruangan, tempatkan tumbuhan yang bisa hidup di dalam ruangan,
akan sangat membantu kesegaran lingkungan Anda.

50. Untuk penanganan barang beracun, segera hubungi dinas kebersihan atau lingkungan di lingkungan Anda.

(Sumber: berbagai sumber)

Tuesday, 13 April 2010

Sederhana tapi Penting!

Selama ini, banyak orang menganggap kesuksesan hanya ditentukan oleh hal-hal teknis seperti punya kemampuan di bidangnya, cerdas, atau pandai berkomunikasi. Namun, ternyata bukan hanya itu syarat untuk meraih sukses. Seringkali sukses juga ditentukan oleh hal-hal yang tampaknya sederhana tapi penting. Beberapa tokoh berikut menunjukkannya. Apa saja hal-hal sederhana itu?

1. Berani jadi diri sendiri. Indra Nooyi, CEO Pepsi kelahiran India pernah menjadi wanita dengan gaji tertinggi di Amerika. Saat menghadapi wawancara di awal kariernya, dengan pede dia mengenakan pakaian tradisional bangsanya, yaitu kain sari. Hingga kini, dia masih sering memakai sari untuk menghadiri acara-acara penting. Nooyi berkomentar, "Jika mereka tidak menerimamu karena memakai sari, merekalah yang rugi, bukan kamu. Jangan pernah sembunyikan jati dirimu."

2. Nama Anda adalah merek Anda, jadi jagalah sebaik-baiknya. Raja Salomo dalam Amsal 22:1 mengatakan, "Nama baik lebih berharga dari kekayaan besar." Menjaga nama baik jauh lebih penting dari menjaga cash flow perusahaan atau income Anda. Tidak ada orang yang mau berbisnis atau mempekerjakan orang yang punya track record buruk.

3. Jangan menghabiskan energi melawan pembenci Anda. "Saya tidak tahu kunci sukses, tapi kunci kegagalan adalah selalu ingin menyenangkan semua orang." Kata komedian Bill Cosby. Aktor yang juga produser serial Cosby Show ini menolak mengikuti selera pasar yang waktu itu lebih suka komedi yang vulgar. Ia sendiri yang menjaga Cosby Show tetap ada di jalurnya dan terbukti menuai sukses.

4. Pastikan pasangan mendukung Anda. Pasangan Anda adalah orang terdekat yang berperan penting dalam karier Anda. Kesuksesan yang diukir tokoh-tokoh dunia seperti Franklin D. Roosevelt, Bill Clinton, Barack Obama, dll, tidak bisa dilepaskan dari dukungan pasangan mereka masing-masing.

Apakah mungkin itu membuat kita sukses? Saya percaya semuanya bisa terjadi. Dan yang terpenting adalah sadari bahwa upah, prestasi, dan promosi itu juga Tuhan yang atur. Ingatlah orang benar bekerja bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk kemuliaan Tuhan.

"Upah pekerjaan orang benar membawa kehidupan, penghasilan orang fasik membawa kepada dosa." Amsal 10:16

Sukses juga ditentukan oleh hubungan Anda dengan orang-orang di sekitar Anda.

Sumber: Spirit Motivator

Tuesday, 6 April 2010

3000 Kegagalan

Apakah Anda merasa sebagai orang gagal? Jika benar demikian, Anda hanya perlu tahu bahwa kegagalan sebenarnya adalah realitas hidup yang pasti dialami setiap orang yang ingin berhasil. Sangat jarang, bahkan tidak ada orang yang berhasil tanpa melewati serangkaian kegagalan lebih dulu. Bahkan, kesuksesan-kesuksesan besar biasanya selalu dibayar dengan kegagalan-kegagalan yang begitu mahal. Anthony Robbins, seorang motivator sukses berkata, "Semua kegagalan dan rasa frustasi yang pernah terjadi dalam hidup saya sesungguhnya menjadi dasar yang kuat untuk meraih kesuksesan yang saya nikmati hari ini."

Dalam sebuah acara yang disiarkan ESPN, seorang pemain basket mengisahkan perjalanan hidupnya, di dunia olahraga, "Lebih dari 3000 kali saya diberi kepercayaan untuk melepaskan tembakan ke jaring lawan naman saya gagal melakukannya. Saya diberi 26 kali kepercayaan untuk melepaskan tembakan terakhir yang menentukan pada saat pertandingan final, dan saya juga gagal. Saya juga pernah menyebabkan tim saya, Chicago Bulls, mengalami lebih dari 300 kekalahan. Meski demikian saya masih saja dijuluki sebagai pemain basket terbaik di sepanjang masa." Ternyata Michael Jordan, pebasket sehebat itu juga pernah mengalami kegagalan yang begitu banyak!

Setiap orang pernah mengalami kegagalan, karena itu kegagalan bukanlah hal yang memalukan atau menakutkan. Kita harus mampu mengubah ketakutan kita akan kegagalan menjadi kekuatan atas kegagalan. Jika kita mengijinkan ketakutan menguasai kita, maka kita tidak akan pernah bertindak. Jika kita tidak pernah bertindak, maka hasilnya juga nol. Karena itu, tidak berani mengambil tindakan justru merupakan kegagalan dalam arti sebenarnya. Lebih baik bertindak dan gagal, daripada tidak mencobanya sama sekali. Meski hasilnya sama-sama nol, paling tidak  kita sudah berani mencobanya, dan itu menjadi pembelajaran yang berharga bagi kita. Selain kita mendapat pembelajarn berharga, kita juga labih berani menghadapi kegagalan sehingga di setiap kesempatan yang akan datang kita bisa meraih keberhasilan..

Lebih baik bertindak dan gagal daripada tidak mencoba sama sekali, karena dari kegagalan, kita pun makin pintar.

Apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab Tuhan menopang tangannya. Mazmur 37:24

Monday, 29 March 2010

Metamorfosa


Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu. Roma 12:2

Anda suka ulat? Banyak dari Anda mungkin begitu benci dengan ulat sebab binatang ini terlihat begitu menjijikan. Sudah menjijikan bisa bikin kulit gatal lagi. Tidak ada yang menarik dari seekor ulat. Tidak ada orang yang berburu ulat, bahkan petani juga memusuhi ulat karena dianggap biang gagalnya panen. Lalu bagaimana halnya kupu-kupu? Ulat jelas tidak bisa dibandingkan dengan kupu-kupu. Kupu-kupu memiliki keindahan tersendiri, sehingga tidak hanya anak-anak, bahkan orang dewasa pun masih suka menangkap kupu-kupu. Petani juga suka kupu-kupu karena binatang ini membantu proses penyerbukan dan pembuahan tanaman.

Menarikany, ulat dan kupu-kupu sebenarnya binatang yang sama. Sebelum menjadi kupu-kupu yang indah, binatang tersebut adalah ulat yang menjijikan. Kuncinya hanya satu, perubahan! Dalam istilah populer proses perubahan itu disebut metamorfosa. Ulat yang menjijikan bisa menjadi kupu-kupu yang indah. Ulat yang dibenci bisa menjadi kupu-kupu yang dicintai.

Mari lakukan tes diri. Apakah banyak orang mau bergaul dengan kita? Ataukah sebaliknya banyak orang merasa "alergi" dengan kita? Apakah kita pribadi yang dibenci ataukah kita pribadi yang dicintai? Apakah hidup kita hanya menjadi sandungan, atau hidup kita menjadi berkat? Apakah kita seekor ulat ataukah kita sudah berubah menjadi seekor kupu-kupu?

Jika ingin menjadi pribadi yang menarik, disukai banyak orang, sekaligus menjadi berkat bagi banyak orang, maka tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali berubah. Kabar baiknya, setiap ulat yang menjijikan memiliki kesempatan untuk menjadi kupu-kupu yang indah jika mau berubah. Masalahnya, banyak orang lebih suka dicap "ulat" daripada harus melakukan perubahan. Tentu saja jangan sampai hal ini terjadi dalam hidup kita. Proses kehidupan dan pembentukan karakter memang menyakitkan tapi hal tersebut akan mengubah kepribadian kita. Hidup hanya sekali, manakah yang Anda pilih: menjadi ulat yang menjijikan ataukah menjadi kupu-kupu yang indah?

Banyak orang lebih suka dicap "ulat" daripada harus melakukan perubahan.
Kita harus selalu berubah, memperbarui, meremajakan diri. Kalau tidak, kita akan membatu. ~Goethe

Sumber: Spirit Motivator

Saturday, 27 February 2010

When Bad Things Happen To Good People

Recently I was invited to speak at an Indonesian church an hour outside of Jakarta. The senior pastor was diagnosed with liver cancer a year earlier. The doctors attending to him explored the possibility of a liver transplant. After much effort, the money needed for the operation was raised and a liver donor was found. On the eve of the surgery, as the doctors were doing a final pre-op examination, they discovered that the cancer had spread throughout his body. It was now too late to do a liver transplant and the procedure was called off. The pastor and his family were devastated by this unexpected turn of events. Upon hearing the news, the assistant pastor was so grief-stricken that the next day, he suddenly collapsed in the middle of the church service and died. Forty days later, the senior pastor passed away. Without any clergy in this fledgling church, the housewifely widow of the senior pastor had to conduct the funeral service on her own. Some finger-pointing members started questioning if the untimely deaths of the top leadership were due to divine retribution, or whether the church was cursed. Over the next few months, attendance began to dwindle. As I ministered in the church, I could sense an unspoken question in the air—why do bad things happen to good people?
There are many wonderful blessings that come with belonging to the Faith/Charismatic circle: the belief in signs and wonders, divine healing and health, success and financial prosperity, living a life of influence and purpose, et cetera. However, one area that most Charismatics do not handle too well is the issue of suffering. The prevalent reasoning is that if God is a good, healing, delivering God, whose desire is only to protect and bless His children, then a Christian should not have to suffer. And if a believer does suffer, then there must be something wrong with his/her life or faith. As such, it is not uncommon to hear prominent Faith/Charismatic ministers making rhetorical statements like, “Our heavenly Father will never allow Christians to suffer. I reject sufferings and claim only God’s blessings!”
When this kind of simplistic thinking is embraced, it can make a person judgmental and mean-spirited. If one is faced with an incurable disease or experiences a tragic accident, it must be the result of an unconfessed sin, a generational curse, or that God is giving up on that person. It is a judgment from God, a divine retribution.
Years ago, one of my Bible college classmates died unexpectedly. Instead of consoling and comforting her father, who was a minister in the Assemblies of God, some Christians wrote accusatory letters condemning him of being the cause of his daughter’s untimely death. They speculated the existence of secret, unconfessed sins that had resulted in this “divine punishment.” Otherwise, it must have been his “lack of faith” that failed to raise that girl from the dead.
Shortly after Seow-How and Cecilia co-founded Heart of God Church in 1999, there was a terrible accident that took place outside of their church premises one Sunday. Two teenage members were walking across the road when a sleepy bus driver rammed into them. One of them died on the spot, the other died in the hospital hours later. It was a heart-wrenching tragedy for this very young church and its congregation. One lady from a local Charismatic church berated Seow-How and Cecilia, saying that the church had been divinely cursed. How else could they explain the unexpected death of the two teenagers? If God’s blessing was on the congregation, there should never have been any form of suffering.
In an overly simplistic view on suffering, the logic usually goes like this:
If you are good, there will be no suffering for you.
If you are bad, you will suffer.
So if there is suffering, then you must be bad, cursed and judged!
If this line of reasoning is true, then what about Jesus Christ, the apostles and all the heroes of faith? They all suffered greatly for the gospel. Obviously the “suffering-means-accursed” logic espoused by many is greatly flawed. I feel strongly that we need to re-look the whole concept of suffering, especially through the life of Job, a man who went through an unparalleled magnitude of suffering.
The Scripture introduces Job as someone who was “blameless and upright, and one who feared God and shunned evil” (Job 1:1). In fact, Job’s morality was so legendary that he was listed twice as one of the three most righteous men in the Old Testament (Ezek. 14:14, 20). He was a spiritually mature man, not a novice in the things of God.
Job was blessed with seven sons and three daughters, all grown up with their own families and homes. He was incredibly wealthy with thousands of livestock. His ownership of 3,000 camels meant that he ran the largest transportation business in the region during his time. The sheer number of his sheep, camels, oxen and donkeys meant that Job also owned a lot of farmlands for the animals to graze on. Without a doubt, he “was the greatest of all the people of the East”(1:3), a man professionally respected by all.
Beyond his material success, Job was a caring father to his children. Like the patriarchs, he functioned as a priest over his family. He took his sacrificial obligation seriously, viewing it as expiation for sin. To Job this included even sins of the heart, for he made special offerings just in case his sons had secretly cursed God (1:5). Even God Himself acknowledged that there was not a better man than Job in his day (1:8). If ever there was an outstanding man, it was Job. Yet, very bad things happened to him.
In one day, severe calamities befell him and his household. Out of nowhere bandits came and pillaged all his oxen and donkeys, murdering all his farmhands in the process (1:15). Then a lightning bolt came out of the sky causing a forest fire, and all his 7,000 sheep and herdsmen were burned alive (1:16). At the same time, robbers came in three raids and took away his 3,000 camels and slew all their handlers (1:17). And before the dust could settle, a freak storm struck the house wherein his ten children were dining. The roof fell on them and they all died instantly (1:19). Within 24 hours, Job lost his entire business and family. Without anyone to help him, this 70-year-old elderly man had to bury all his children by himself.
As if what happened was not bad enough, Job now became very sick. His body was inflamed with ulcerous sores (2:7). Bible scholars believe that he had a severe case of elephantiasis, an illness that causes swelling and the disfiguration of face, causing him to be unrecognizable (2:12). He began to lose appetite and spiraled into depression (3:24-25). His body was covered with scabs oozing out pus and there were worms crawling all over him (7:5). He developed difficulty breathing (9:18), darkening of the eyelid (16:16), severe weight loss (19:20) as well as continual pain and anxiety (30:27). The high fever and blackened skin (30:30) indicated that he was probably having some form of kidney or liver failure. For the next nine months, Job was in constant delirium.
Because he was totally bankrupt, Job was now living at the city dump where they burned garbage and human excrements. He was the absolute personification of misery. The richest man in the East was reduced to nothing. He was now a social outcast—shamed, disgraced, rejected and despised by all. Very bad things happened to this very good man!
It is never easy for anyone to go through difficult times and tough situations. However, when terrible things happen to us, here are a few things we need to bear in mind:
1.Know that God is not angry with you. Job was an extremely righteous man, yet he suffered like no one else. Psalm 34:19 says, “Many are the afflictions of the righteous, but the Lord delivers him out of them all.” The apostle Paul, who himself is no stranger to suffering, says, “All who desire to live godly in Christ Jesus will suffer persecution” (2 Tim. 3:12). You could be going through a hard time because you have been righteous and godly. So do not condemn yourself or think that God is displeased with you.
By the way, the word “afflictions” also means physical suffering and mental anguish. With all my heart, I fully believe in divine healing (Mark 16:17-18). However, I also submit to the sovereignty of God in any given situation. Like Job, many great men of faith (with strong healing ministries) have themselves been afflicted with terrible illnesses. Elisha the miracle worker died of a terminal sickness (2 Kin. 13:14). The apostle Paul was said to have had an incurable disease (2 Cor. 12:7). Epaphroditus was so sick he almost died (Phil. 2:27). Billy Graham and Yonggi Cho are both diagnosed with Parkinson’s disease. Reinhard Bonkke struggled with prostate cancer a few years ago. Casey Treat was diagnosed with Hepatitis C in 2003. A week ago, on November 22, megachurch pastor Billy Joe Daughterty succumbed to non-Hodgkin’s lymphoma and passed away. All these ministers are godly men of faith, with impeccable integrity, but have themselves been suffering with severe illnesses. The next time you see someone who is sick, please do not be quick to judge him/her for having little faith. We do live in a fallen world with imperfect bodies.
2.Realize that you are in a spiritual warfare. The Bible makes it very clear that the source of Job’s suffering was Satan the devil. He has come to steal, kill and destroy (John 10:10). Through tragedies and calamities, Satan constantly seeks to tempt us to reject God, to “curse Him to His face” (Job 1:11). When you are faced with hard times, do not get mad with God. It is not His fault.
3.Believe that God is ultimately in control. To touch Job’s possessions, family and health, Satan needed permission from God (1:12; 2:6). We can be assured of this one thing: nothing can ever happen to us without His permission. As a good God, He never enjoys seeing His people suffer. Yet sometimes, He allows bad things to happen to bring about a deeper change in us. In the case of Job, Satan may have thought that he was provoking God; but really, God was simply using Satan to complete His own perfecting work in Job.
4.Offer up the sacrifice of praise. Despite being grief-stricken, Job “fell to the ground and worshiped,” acknowledging God’s sovereignty over his life to give and take away (1:20-21). Even when he was made bankrupt and saw the irrational death of his ten children, never once did he “sin nor charge God with wrong” (1:22). Job’s trust in God’s goodness was astounding.
5.Understand that God is seeking to make you better. God is more interested in our character than our comfort. He is a very purposeful God and never arbitrary in His treatment concerning us. That is why when we do not see His hand, we must learn to trust His heart. If not, we will become confused, resentful and bitter. That is precisely why we need faith in our walk with Him. The silence of God will make you wonder if He even cares, but He does. The silence of God will make you wonder if He is even there, but He is. Faith is never for the good times, it is always for the difficult times.
One cannot appreciate Job’s love for God unless one understands Job 29, which is a description of Job’s life before the tragedies befell him. Way back then, the counsel of God was already a lamp unto his feet and a light unto his path (29:1-3; Ps. 119:105). He was walking in revelation. By Job’s own admission, he considered himself as one who had already “arrived” at advanced spiritual growth and maturity: “I was in the days of my prime” (Job 29:4). He was living with great material abundance and God’s presence (29:6).
When he spoke, everybody listened. Job was the “eyes to the blind,” the “feet to the lame,”the “father to the poor,” the provider to widows, and the defender of justice. The people loved, admired and looked up to him. He was their guide, commander and king. Really, there was nothing more for Job to achieve. He had done it all! He was living the dream!
I know that for most Christian businesspeople or “kingdom professionals,” this is the kind of life we all aspire to live—blessed with wealth, a great family life, and status in society. We desire to be the head and not the tail, above and not beneath, and at the same time, a spiritual leader that everyone looks up to in the church and community. Yet as far as God was concerned, Job was not completely mature. There were many inner struggles he had that nobody knew of. For one, Job never felt safe or secure in life in spite of all his achievements. He had a lot of restlessness and anxieties in his soul (3:25-26).
Here was a man who knew and sensed God, but never had real, deep, life-changing encounters with God. He had heard from God, but had never seen the Lord (42:5). Although he loved God with all his heart, he had not yet reached the point of total abandonment toward Him. Job is like the Christian who has not come to a place where he can say, “For to me, to live is Christ, and to die is gain” (Phil. 1:21), or “I have been crucified with Christ; it is no longer I who live, but Christ lives in me” (Gal. 2:20).
Job was successful, spiritual and blameless, but he was not broken unto the Lord. He felt he had “arrived” (materially, parentally, socially, spiritually), but he was terribly deceived—a victim of his own illusion. God wanted to change that in him. In His sovereign wisdom, the only way to break Job was to take him through a period of abject suffering.
6.Develop the capacity to obediently endure. This is the key purpose of all God-ordained sufferings. James 5:11 exhorts us to experience and learn the “perseverance of Job.” Perseverance is the “capacity to endure,” which is critical to our maturity and destiny. Very often, when we are exposed to certain viral sicknesses (for example, chicken pox), our body develops immunity against it thereafter. Similarly, while suffering does not originate from God, He allows it to build in us the spiritual capacity to handle intense pain and stress, and an immunity toward discouragement and depression.
Romans 5:3-4 says that “we also glory in tribulations, knowing that tribulation produces perseverance; and perseverance, character; and character, hope.” No one in the right mind will ever wish for suffering.We do not rejoice in suffering unless we know there is something greater that God has purposed in our lives. God’s ultimate purpose of putting us through crisis, heartbreaks, misunderstanding and persecution is so that we develop perseverance (the capacity to endure), character (moral strength) and hope (a positive outlook of life).
How great a life do you want to live? Well, how much pressure are you able to take? When Job lost all his wealth and ten children, and his resentful wife blamed God, he was able to keep on worshiping Him. When his physical body was suffering from sores, swellings and multiple organ failures, and when his psychological state of mind was in severe depression, Job was able to keep trusting God. His capacity for pressure was amazing. Job said, “Though He slay me, yet will I trust Him” (Job 13:15). Trusting God is when you do not need an explanation from Him for whatever is happening in your life.
When his three friends (Eliphaz, Bildad and Zophar) turned against him and persecuted him, telling him that his predicament was a punishment from God for his sin, Job held on to his faith: “But He knows the way that I take; when He has tested me, I shall come forth as gold” (Job 23:10).
Even Jesus Christ went through sufferings to “learn obedience” as a Son (Heb. 5:8).Obedient endurance is the crowning mark of maturity. When you can obey the will of God even in the midst of crisis, heartbreaks, misunderstanding and persecution, you have become truly mature.
Sufferings refine our faith in God like nothing else will. That is why the Scripture encourages us to “count it all joy when you fall into various trials, knowing that the testing of your faith produces patience” (James 1:2-3). As your capacity for endurance grows, and you can keep on obeying the will of God in spite of stress, hardships, criticisms and pain, you will become “perfect and complete, lacking nothing” (1:4).
7.Get ready for the double portion. Suffering is a prerequisite for sonship. Only true sons inherit the Father’s estate. Jesus was willing to suffer and become “obedient to the point of death, even the death of the cross. Therefore God also has highly exalted Him and given Him the name which is above every name, that at the name of Jesus every knee should bow, of those in heaven, and of those on earth, and of those under the earth, and that every tongue should confess that Jesus Christ is Lord, to the glory of God the Father” (Phil. 2:8-11). Jesus Christ, the true Son of God, became the heir of all things and inherited His Father’s estate. It is the same for us: “If we endure, we shall also reign with Him” (2 Tim. 2:12). This is what obedient endurance does: giving us the sonship to inherit the double portion.
Ultimately, God’s purpose of Job’s suffering was to qualify him for the double portion. True enough, God doubled all his possessions. He was blessed with 14,000 sheep, 6,000 camels, 1,000 oxen, and 1,000 donkeys (42:10-12). He was blessed with ten other children (42:13-14). God then doubled his length of days by adding another 140 years (70 x 2) to his life. Moreover, Job became God’s example of obedient perseverance for all eternity.
Like Job, it is one thing to be blameless but quite another to be broken unto the Lord. True maturity is the absolute abandonment to God and His will. When there is no capacity for obedient endurance, we are not yet ready for the double portion. If you are going through a period of intense suffering, wisely do everything you possibly can to overcome it. And having done all, hold on steady and stand before the Lord in faith (Eph. 6:13). Obediently endure through the fire, trial, pain, disappointment, sickness, financial lack and persecution by faith. God is working out something beautiful in your life.

Source: konghee.com

Ricky and Joan

Daisypath Anniversary tickers